Minggu, 16 Februari 2014

Between Love And Speed 1

Sirkuit Laguna merupakan sebuah sirkuit balap mobil sekaligus juga balap motor yang terletak di Monterey, California, Amerika Serikat. Sirkuit ini dibangun pada tahun 1957. Panjang sirkuit saat ini adalah 2,3 mil (3,6 km) dengan layout yang berbukit-bukit dan memiliki sebelas tikungan, salah satu di antaranya adalah "Corkscrew" di tikungan 8 dan 8A, yang banyak disebut merupakan kebalikan dari "Eau Rouge" yang ada di Spa-Francorchamps.

Sedari pagi keadaan di sekitar sirkuit ini tengah sibuk. Paddock-paddock yang berada di sana di penuhi oleh para pembalap dan team-nya. Mereka sedang mempersiapkan berbagai persiapan untuk balapan yang akan di laksanakan pada hari Minggu nanti. Saat ini para pembalap MotoGP dari kelas Moto3, Moto2 dan MotoGP sedang sibuk melakukan sesi kualifikasi hari pertama.

Seorang wanita cantik berambut coklat terlihat berjalan menuju ke salah satu paddock yang ada di sana. Kehadirannya di tempat yang di dominasi oleh para pria ini menjadi pusat perhatian. Karena wanita ini memang memiliki paras yang cantik. Wanita itu adalah Naima Alexandra Marques, kini ia tengah berada di sirkuit Laguna Seca untuk menemui Marc Marqeus, yang tak lain adalah adik laki-lakinya yang kini telah bergabung dengan team Repsol Honda di kelas MotoGP. Tak banyak tahu tentang Naima, karena Naima jarang sekali terlihat menghadiri balapan sang adik. Naima saat ini tinggal di benua Paman Sam dan meniti karir sebagai seorang pembalap Nascar. 

Dalam perjalanan menuju ke paddock sang adik Naima bertabrakan dengan seorang pria yang sedang memegang segelas kopi di tangannya. Sontak saja seluruh kopi itu tumpah dan mengotori pakaian Naima.

"Argh, menyebalkan sekali. Hei kau pakai matamu jika berjalan." Bentak Naima kesal sambil berusaha untuk membersihkan pakaiannya yang terkena tumpahan kopi.

"Hei nona, jangan menyalahkan aku seenaknya. Kau sendiri berjalan terburu-buru tanpa memperhatikan jalan." Kilah pria itu tak kalah sengit.

Mendengar perkataan pria yang telah menabraknya itu Naima langsung menatap tajam pria yang telah menabraknya itu. Aura permusuhan langsung Naima tunjukkan. "Kau...." pekik Naima sambil menunjuk pria itu tepat di wajahnya.

"Kau apa, huh? Lagipula apa yang sedang kau lakukan disini? Ini bukan tempat untuk wanita." Ucap pria itu dengan sinis.

"Apa kau bilang? Jadi menurutmu sirkuit hanya cocok untuk para pria dan tidak untuk wanita, begitu?" Sergah Naima dengan emosi yang mulai memuncak. Demi apapun juga pria ini benar-benar menyebalkan, dia pikir siapa dirinya bisa berbicara seenaknya seperti itu, Naima menggerutu dalam hati.

"Ya, balapan dan sirkuit hanya cocok untuk kami para pria. Bukan untuk wanita manja sepertimu, nona." Timpal pria itu dengan nada bicara yang semakin membuat Naima kesal.

"Salah besar jika kau katakan bahwa dunia balap hanya untuk kalian para pria. Aku bisa membuktikan bahwa semua ucapanmu itu salah besar." Jelas Naima sambil memberikan penekanan kepada dua kata terakhir yang diucapkan.

"Oh ya?" Tanyanya meremehkan sambil mengangkat sebelah alisnya, "Lalu apa yang akan kau lakukan untuk membuktikan semua ucapan itu nona?" Pria itu melipat kedua tangannya sambil menatap Naima dengan tatapan yang meremehkan.

"Memang kau saja yang bisa menaiki motor sport 1000cc, huh. Aku juga bisa mengendarainya, bahkan aku bisa mengejarmu di lintasan apapun. Aku bisa lebih cepat darimu."Sembur Naima dengan perasaan yang kesal, kemarahannya kini sudah memuncak dan mencapai ubun-ubun.

"Haruskah aku mempercayai semua ucapanmu itu, nona?" Tukas pria menyebalkan itu sambil tertawa mengejek. "Kau pikir kau siapa, huh?"

"Kau ingin tahu siapa aku? Datanglah ke Daytona International Speedway. Maka kau akan tahu siapa aku, dasar kau pria menyebalkan." Pekik Naima sambil berkacak pinggang. Kemudian Naima pergi dari hadapan pria menyebalkan itu sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Naima sempat mendengar suara tawa yang berasal dari pria menyebalkan itu. Lihat saja nanti, jika ia tidak datang berarti ia tak lebih dari seorang pria pengecut. Tapi tunggu untuk apa aku mengharapkan kedatangan pria menyebalkan seperti itu. Sebaiknya pria itu tidak usah datang, jadi aku bisa berkonsentrasi untuk balapanku.

Naima terus menggerutu sepanjang jalan sampai-sampai tidak sadar bahwa ia sudah sampai di paddock adik tersayangnya.

"Hei Kak, apa yang terjadi? Mengapa kau menekuk wajahmu sambil menggerutu seperti itu? Dan apa yang terjadi dengan pakaianmu?" Teguran Marc langsung menghentikan gerutuannya.

"Aku sedang sangat kesal, rasanya aku ingin menjabak dan mencakar wajahnya." Jelasnya dengan gemas.

"Woo, sabar-sabar sebaiknya tenangkan dirimu, Kak. Kau tahu bahwa kau terlihat menyeramkan saat ini." Celetuknya sambil berpura-pura ketakutan.

"Jangan membuatku semakin kesal, Marc." Naima memberikan tatapan lelahnya kepada Marc.

"Ups, maaf kakakku yang cantik. Tapi aku benar-benar jujur Kak, wajahmu yang cantik itu terlihat sangat kusut." Goda Marc.

"Kau tidak akan bisa menggodaku, Marc. Sampai kapanpun juga rayuanmu itu takkan mempan kepadaku." Tukas Naima tegas.

"Hanya kau dan Maa wanita yang tidak mempan dengan rayuanku, Kak. Tapi mengapa Paa selalu berhasil merayu kalian berdua?" Paparnya sambil mengelus dagunya dan memasang ekspresi berpikir.

Naima hanya mencibir melihat kelakuan adiknya yang selalu berusaha untuk menggodanya. Tapi sayangnya Naima tidak pernah terpengaruh oleh semua jurus-jurus rayuan yang sering di lancarkan oleh sang adik.

"Ah, aku ingat ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, Marc." Celetuk Naima yang membuat Marc langsung mengalihkan perhatiannya kepada sang kakak.

"Memangnya ada apa, Kak?" Marc menghenyitkan keningnya mendengar nada bicara kakaknya yang tiba-tiba berubah menjadi serius.

Naima menatap lekat wajah sang adik dengan tatapan yang datar sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah sang adik, "APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN, HUH? MELAKUKAN OVERTAKE YANG BERBAHAYA SEPERTI ITU MARC MARQUES?" Teriak Naima tepat di depan wajah Marc, membuat sang adik terlonjak kaget mendengar teriakan tiba-tiba dari sang kakak.

"Astaga, jangan berteriak seperti itu, Kak. Kau benar-benar mengagetkanku." Timpal Marc sambil menutup kedua telinganya.

"Karena apa yang kau lakukan sangat bodoh, Marc. Yang kau lakukan tadi di lintasan tidak hanya mengancam keselamatan riders lain, tapi keselamatanmu juga, Marc." Jelas Naima panjang lebar dengan gemas.

"Aku tahu kalau aku salah, Kak. Tapi, kakak bisa lihat aku baik-baik saja, kan." Jawab Marc santai, meskipun sebenarnya ia tahu bahwa sang kakak sangat mengkhawatirkannya.

"Untung saja Maa dan Paa baru akan datang kemari pada hari Minggu nanti. Kau tahu Dad akan habis-habisan menceramahimu, Marc." Jelas Naima.

"Aku tahu Kak, aku minta maaf." Ucap Marc.

Namun ternyata perdebatan kakak beradik itu terus berlanjut. Begitulah Naima dan Marc jika bertemu, ada saja hal yang membuat mereka berdebat. Tapi kebanyakan hal yang membuat mereka berdebat adalah seputaran dunia balap. Apalagi mereka jarang sekali bertemu.

Hingga tiba-tiba, "Astaga, aku lupa." pekik Naima sambil berdiri duduknya.

"Ada apa, Kak?" tanya Marc penasaran.

"Indisa-chan, astaga aku lupa bahwa dia masih ada di tempat parkir." tukas Naima sambil menepuk keningnya.

"Yang mau menjadi mekanis terbaru aku itu?" tebak Marc.

"Ya." Naima menggangguk dengan cepat dan bergegas keluar dari paddock. "Temani aku mencari Indisan-chan, Marc." Pinta Naima sambil menarik tangan adiknya itu.

"Woooo, jangan tarik-tarik Kak. Aku bisa jalan sendiri, ada apa denganmu sebenarnya? Lihat aku saja belum mengganti pakaian balapku." Marc menggerutu di sepanjang jalan.

"Sudah, nanti saja ganti baju. Ya terpenting sekarang kita harus menemukan Indisa-chan secepatnya." Tukas Naima sambil terus menarik tangan Marc.

***

Sementara itu di paddock yang berbeda. Salah seorang pembalap kelas MotoGP sedang menggerutu kesal. Karena ia tidak bisa menikmati kopi kesukaannya karena di tengah jalan ia bertabrakan dengan seorang wanita.

Ya pria itu adala Dani Pedrosa, siapa yang tak kenal dengan pembalap yang satu ini. Selain tampan Dani juga di kenal sebagai salah satu pembalap yang paling pendiam di antara semua pembalap yang mengikuti ajang balapan ini. Sudah hampir delapan tahun Dani bergabung dengan team Repsol Honda.

"Hai Dani, ada apa? Mengapa wajahmu terlihat kesal sekali." Tanya Alberto yang merupakan asisten Dani.

"Kau rupanya, aku pikir siapa." Celetuk Dani dengan malas.

"Kau kenapa?." Alberto mengulangi kembali pertanyaan sambil duduk di samping Dani. "Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu." Tutur Alberto.

"Entah mimpi apa aku semalam, karena tadi aku bertabrakan dengan seorang wanita yang sangat menyebalkan." Dani mulai bercerita.

"Seorang wanita, eh? Setahuku biasanya jika sedang sesi kualifikasi seperti ini jarang sekali ada seorang Umbrella Girl yang berkeliaran di sekitar sini." Ucap Alberto.

"Sepertinya dia bukan seorang Umbrella Girl, Alberto. Wanita itu cantik, sangat cantik bahkan. Wajahnya seperti seorang model. Hanya saja ia sangat galak dan angkuh. Like Ice Princess." Tutur Dani sambil menggelengkan kepalanya.

Alberto menegakkan tubuhnya, "Apakah wanita itu memiliki rambut berwarna coklat yang panjang dan memiliki mata berwarna biru laut?" Tebakan Alberto membuat Dani terkejut.

"Ya, bagaimana kau bisa tahu?" Tegur Dani.

"Itu kakaknya Marc,  Dani. Namanya Naima dan dia memang terlihat angkuh, tapi jika sudah kenal ia sangat baik sekali, tadi aku bertemu dengannya di paddock Marc. Selain itu Naima memang sudah lama tinggal di Amerika." Tutur Alberto sambil tersenyum.

"Bagiku dia itu tetap wanita yang sangat menyebalkan. Baru saja bertemu sudah memberikan tatapan permusuhan kepadaku. Kau tahu bahwa aku takkan berbaik hati kepada orang yang mencari perkara kepadaku." Tegas Dani.

"Jangan seperti itu, bisa-bisa kau jatuh cinta padanya nanti." Celetuk Alberto sambil menggoda Dani.

Dani hanya mencibir dengan kesal menanggapi godaan Alberto, "Berhentilah menggodaku, Alberto. Karena apapun yang terjadi aku takkan melunak atau mengubah sikapku kepada wanita menyebalkan itu." Gerutu Dani dengan sebal.

"Namanya Naima, Dani." Koreksi Alberto.

"Ah ya, Naima maksudku., timpal Dani malas.

Alberto terkekeh melihat Dani uring-uringan, terlebih lagi saat mengetahui bahwa yang membuatnya uring-uringan adalah seorang wanita Naima. Kakak dari teman satu team-nya Marc Marques.

***

Sementara itu seorang wanita cantik berparas Asia sedang berjalan tak tentu arah di tengah hiruk pikuk di sirkuit sambil menggendong tas punggung kesayangannya. Dia adalah Indisa-chan, wanita berdarah Jepang yang akan bergabung dengan team Repsol Honda. Indisa-chan akan menjadi salah satu team mekanik di team Marc.

"Astaga, ramai sekali tempat ini. Naima benar-benar keterlaluan meninggalkanku begitu saja di tempat parkir." Gerutunya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Duh, aku benar-benar lupa nama teamnya apa? Naima kau dimana, aku tersesat. Hiks." Keluhnya sambil terus berjalan.

Indisan-chan semakin salah tingkah karena kehadirannya di tempat itu menarik perhatian beberapa pembalap dan krunya. Karena jarang sekali ada wanita cantik yang berkeliaran ketika sesi kualifikasi.

Indisa-chan terus sama berjalan sambil memperhatikan setiap paddock yang di lewatinya, berharap ia menemukan sosok Naima di antara orang-orang itu. Setelah cukup lama berjalan dan berkeliling akhirnya Indisa-chan berhenti di depan sebuah paddock. Dengan penuh percaya diri Indisa-chan melangkahkan kakinya ke dalam paddock itu.

"Naimaaaa..." teriak Indisa-cha bersemangat ketika sudah berada di dalam paddock tersebut.

Wajah Indisa-chan langsung berubah menjadi merah seperti buah tomat. Karena semua orang yang ada di dalam paddock tersebut tengah menatapnya dengan tatapan bingung.

"Astaga, sepertinya aku salah masuk paddock." Gumam Indisa-chan pada dirinya sendiri.

"Sepertinya kau tersesat, nona." Tegur seorang pria. Wajah Indisa-chan yang sudah merah kini semakin memerah ketika melihat siapa yang telah menegurnya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar