Senin, 07 Oktober 2013

Try With Me Chapter 5

"Terserah kau saja, James. Aku mau tidur saja." Jawabnya malas sambil mengatur kursi penumpang agar lebih nyaman di pakai untuk beristirahat. Lalu ia mengambil sebuah penutup mata dan selembar selimut yang tebal. Setelah menggunakan kedua benda itu, Hanna langsung berbaring sambil mengangkat kedua kakinya. Dan beberapa menit kemudian aku bisa mendengar nafasnya yang mulai teratur.

Aku hanya terkikik geli melihatnya yang merajuk seperti anak kecil itu. Benar-benar sangat menggemaskan sekali. Rasanya aku ingin sekali mencubit pipinya dan mencium bibirnya yang selalu menggodaku setiap saat.

Keinginan untuk menyentuh tubuh mungil Hanna begitu besar. Karena saat ini jari-jari tanganku sedang sibuk menari-nari menyusuri bentuk wajahnya yang cantik itu. "Semakin hari kau semakin cantik, Hanna. Entah sampai kapan aku bisa menahan diriku untuk tidak menyentuh dan menuntut hakku sebagai seorang suami darimu. Kau membuatku gila." Bisikku sambil terus membelai wajahnya.

Setelah menempuh perjalanan cukup yang panjang akhirnya kami mendarat di Aspen. Keluar dari bandara sebuah mobil Audi R8 berwarna putih telah menunggu. Aku mengambil alih kemudi dan langsung mengarahkan mobil memasuki kawasan pusat kota Aspen.

"Kita berada di mana?" Tanya Hanna yang masih mengantuk.

"Kita ada di Aspen, sayang." Jawabku dengan pandangan yang tetap terfokus lurus ke depan.

"Aspen?" Tanyanya sambil terlonjak dari kursi penumpang. Kedua matanya yang indah membulat sempurna dan terlihat lucu. Sangat menggemaskan.

"Ya, kita sedang berada di Aspen. Kau tidak suka?" Tanyaku sambil meliriknya kilat.

"Bukan, aku hanya terkejut saja. Aku senang sekali kau mengajakku ke Aspen, karena tempat ini adalah tempat kesukaanku. Terima kasih." Ungkapnya dengan mata yang berbinar-binar.

"Syukurlah jika kau menyukai kejutan yang aku berikan. Akan ada banyak kejutan yang sudah aku siapkan untukmu, sayang."  Aku kembali menatapnya lalu fokus kembali menatap jalanan.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling kota?" Tanyanya lagi masih dengan antusias.

"Aku punya tempat yang lebih menyenangkan daripada berkeliling kota ini." Jawabku sambil membelokkan mobil ke jalanan yang menanjak dan menuju ke kaki bukit pegunungan Aspen.

Jalanan mulai berliku-liku dan berbatu dengan pemandangan yang cukup memanjakan mata dengan jurang yang berada di sisi kanan jalan dan pohon-pohon besar di samping kiri jalan. Setengah jam kemudian aku membawa mobil memasuki ke sebuah halaman villa yang sudah kubeli sejak setahun yang lalu.

Bangunan villa bergaya klasik dengan cat berwarna coklat kayu yang di dominasi dengan warna putih membuat villa ini terlihat lebih hangat. Dengan halaman depan yang luas di tumbuhi oleh berbagai pohon, bunga dan rumput hijau di sekelilingnya. Dan ada sebuah air mancur berbentuk lingkaran di tengah-tengah halaman depan. Tepatnya di depan pintu masuk utama. Yang semakin menambah indah halaman depan villa ini.

"Ini... ini milikmu?" Tanya Hanna sambil berdecak kagum.

"Milik kita tepatnya." Jawabku sambil mematikan mesin mobil tepat di depan pintu masuk utama villa. Setelah melewati gerbang otomatis dengan pagar tinggi yang mengelilingi villa.

"Milik kita? Ini berlebihan, James." Sanggahnya tak percaya.

"Aku tak bercanda, sayang. Karena semua milikku akan menjadi milikmu juga. Ayo kita turun." Ucapku sambil mematikan mesin mobil. Aku turun lalu jalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Hanna.

Setelah pintu mobil terbuka, Hanna langsung melompat turun dengan bersemangat. Sepertinya Hanna benar-benar menyukai tempat ini. Yeah, tentu saja aku tahu bahwa Hanna sangat ingin sekali pergi ke Aspen. Meskipun sebenarnya aku lebih senang membawanya pergi ke Maldives atau berkeliling Eropa.

Tapi setelah melakukan sedikit penyelidikan dan hasilnya menyatakan bahwa Hanna menyukai Aspen. Akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya ke Aspen saja. Lagipula aku memiliki sebuah villa di Aspen.

"Sangat bersemangat sekali Mrs. Arthur." Tegurku sambil sedikit menggodanya. Entah sejak kapan aku jadi senang menggoda Hanna. Semua orang tahu aku seperti apa jika menghadapi seorang wanita.

"Teramat sangat bersemangat. Ayo, aku ingin berkeliling tempat ini. Sepertinya tempat ini sangat menyenangkan sekali." Tukasnya dengan mata yang berbinar-binar bahagia. Ah, rasanya benar-benar bahagia bisa melihat Hanna bisa tersenyum lebar seperti ini.

Kami berjalan beriringan menuju ke pintu masuk utama. Sedangkan barang-barang milik kami telah di bawa oleh Mr. Trent yang merupakan pengurus dan penjaga villa ini bersama istrinya. Ah, sudah lama sekali aku tidak berkunjung dan menghabiskan waktuku di villa ini.

Hanna pasti akan terkagum-kagum melihat pemandangan yang akan di dapatnya tepat di belakang villa ini. Aku pastikan ia tak akan berhenti berdecak kagum. Dengan perlahan aku membukakan pintu untuk kami. Mrs. Trent langsung menyambut kami dengan hangat.

"Selamat datang kembali Mr. dan Mrs. Arthur. Senang sekali melihat anda bisa berkunjung kemari." Sapa Mrs. Trent.

"Tolong panggil saja aku Hanna, Mrs. Trent." Timpal Hanna sambil menjabat tangan Mrs. Trent.

"Terima kasih sudah menjaga tempat ini Mrs. Trent." Jawabku singkat.

"Sudah tugas saya dan suami Mr. Arthur. Ah, sebaiknya anda berdua beristirahat saja. Karena satu jam lagi makan malam akan segera siap." Ungkap Mrs. Trent.

Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan aku langsung mengajak Hanna bergegas menuju ke kamar utama yang berada di lantai dua. Kami memasuki sebuah kamar yang berukuran besar. Dengan sebuah tempat tidur king sizes yang terletak di tengah-tengah ruangan, ada sebuah pintu kaca berukuran besar tepat di depan tempat tidur.

"Kamar yang sangat luas dan sangat indah sekali." Gumamnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar, "James, bolehkah aku membuka pintu kaca itu?" Tanyanya kemudian.

"Tentu saja, kau pasti akan suka dengan apa yang akan kau temukan setelah membuka pintu itu." Jawabku sambil mengiringinya berjalam menuju ke arah pintu kaca itu.

Dengan perlahan Hanna membuka kenop pintu kaca tersebut. Ketika pintu itu telah terbuka lebar sepenuhnya.

"Astaga... James... Ini..." serunya. Kedua matanya membulat sempurna melihat melihat pemandangan di hadapannya.

"Aku tahu bahwa kau akan sangat menyukai villa ini." Jawabku sambil menyandarkan tubuhku di pintu.

Tiba-tiba Hanna memelukku, "Terima kasih James, aku tak tahu harus berkata apa lagi. Tempat ini benar-benar sangat indah sekali." Gumamnya.

"Sudah kubilang aku akan melakukan apapun untukmu." Bisikku sambil membalas pelukannya. Asal kau tahu Hanna, ini adalah salah satu caraku untuk membuatmu bertekuk lutut kepadaku. Aku akan berusaha keras agar kau segera melupakan Alex sialan itu. Aku takkan membiarkannya masuk ke dalam kehidupan pernikahan kita. Takkan pernah, ucapku dalam hati.

Setelah beberapa saat Hanna langsung melepaskan pelukannya. Wajahnya langsung merona. Hal lain yang aku sukai sejak bersama Hanna adalah melihat pipinya yang putih itu berubah menjadi berwarna pink karena tersipu malu. Sangat menggemaskan.

"Ma-maafkan aku." Ucapnya tergugu sambil menundukkan kepalanya.

"Mengapa harus minta maaf? Aku suamimu dan kau istriku, tak masalah bukan." Jawabku sambil memberikan tatapan menggoda kepadanya.

"Ah, sebaiknya aku pergi mandi sebelum berjalan-jalan. Permisi." Ucapnya cepat lalu pergi dengan terburu-buru meninggalkanku di balkon. Aku terkekeh geli melihat sikapnya yang terkadang sangat lucu seperti itu.

Bisakah aku membuatmu mencintaiku, Hanna? Membalas semua perasaanku kepadamu? Ataukah kau akan kembali menyiksaku seperti yang sudah di lakukan oleh Lila? Entahlah, namun kali ini aku takkan menyerah. Aku akan berjuang untuk mendapatkan cintaku.

True lovers never take it slowly
When they 've found the one and only
Nothing can replace this feeling
Knowing someone loves you
It's painted with the pain and glory
Taking from a known sad story
Laying out my life before me
Fearing the unknown
Sharing never showed me much appeal
And now I 'm only praying it' s for real
So how does it feel?
When I hold you in my arms
And you 're lying next to me
Never wanting you to leave
Until I 'll tell you how it feels
To be cradled like my dreams
And to know that you love me
No more wasting time in asking other people
How does it feel ?
How does it feel ?
Forever taken you for granted
You give me everything I wanted
I'm so afraid that I might lose you
But time will let us see
If everything is real I' m feeling
Well, maybe we've been only dreaming
And if it 's gonna die to save it
'Cos baby , I believe
Nothing in the world could make it
right
'Cos baby , loving you brings me to life
And how does it feel ?
When I hold you in my arms
And you 're lying next to me
Never wanting you to leave
Until I 'll tell you how it feels
To be cradled like my dreams
And to know that you love me
No more wasting time in asking other people
How does it feel ?
Nothing in the world could feel this right
'Cos baby , you 're the best thing in my life
How does it feel ?
When I hold you in my arms
And you 're lying next to me
Never wanting you to leave
Until I 'll tell you how it feels
To be cradled like my dreams
And to know that you love me
No more wasting time in asking other people
How does it feel ?

(Westlife - How Does It Feel?)

***
Saat ini aku sedang berada di villa milik James di Aspen. Tempat yang paling ingin aku kunjungi, dan tiba-tiba saja suamiku itu memberikanku sebuah kejutan yang membuatku tak henti-hentinya tersenyum. Bahkan villa ini memiliki desain kamar mandi yang indah.

Ia membawaku ke Aspen, dan mengajaku ke villanya yang sangat indah ini. Aku benar-benar menyukai tempat ini. Kamar yang kami tempati memiliki pemandangan yang sangat spektakuler. Ketika pintu kaca yang terhubung ke balkon di buka hamparan rumput hijau langsung menyambutku. Di tambah lagi dengan sebuah danau yang tak jauh dari villa. Belum lagi berbagai macam bunga dan pohon-pohonan yang tumbuh subur menghiasi hamparan rumput hijau dan pinggiran sekitar danau itu.

Sejak dulu aku memang selalu memimpikan memiliki sebuah villa di Aspen dengan ciri-ciri yang sudah aku sebutkan tadi. Hanya saja aku tak menyangka bahwa James-lah yang akan mewujudkan keinginanku itu. Hal yang di lakukannya ini sedikit membuatku mengubah pandanganku terhadapnya selama ini. Dan sedikit membuatku melupakan Alex.

Ah, apa yang harus aku lakukan pada Alex? Aku benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa. Semua ini benar-benar membingungkanku dan di luar rencanaku. Aku tak pernah berkeinginan untuk menjalani hidup seperti ini. Di hadapkan pada dua pilihan yang menurutku cukup sulit.

Haruskah aku memilih Alex yang notabennya merupakan kekasih dan cinta pertamaku ataukah aku harus memilih James yang sekarang berstatus sebagai suamiku, mencoba membuka hatiku untuk mencintai James. Karena masa depanku bersama James, bukan? Dan menganggap Alex sebagai bagian dari masa laluku?

Sebuah ketukan di pintu membuatku tersadar dari pikiranku tentang Alex dan James. Selain itu aku mulai merasakan tubuhku yang menggigil karena terlalu lama berendam. Bahkan air hangat yang aku pakai untuk berendam.saat ini temperaturnya sudah berubah menjadi dingin.

"Hanna, kau baik-baik saja, kan? Cepat buka pintunya, atau aku akan mendobrak pintunya." Teriakan James dari balik pintu langsung mengembalikan kesadaranku. Dengan tergesa-gesa aku membersihkan tubuhku lalu memakai bathrob dan segera membuka pintu.

"Hai..." ucapku dengan ekspresi yang bodoh. Mengapa harus kata-kata itu yang keluar dari mulutku?

"Syukurlah kau baik-baik saja." Ucapnya dan tiba-tiba saja memeluk tubuhku. Terdengar kekhawatiran dari suaranya.

"Maaf, aku tadi tertidur ketika sedang berendam." Jawabku berbohong.

"Dasar bodoh, bisa-bisanya kau tertidur di dalam bathtub. Bagaimana jika kau tenggelam, huh? Kau ingin membunuhku karena cemas." Gumamnya masih tetap memeluk tubuhku dengan begitu erat.

"Maaf." Bisikku sambil menyenderkan kepalaku di dadanya. Aku menghirup aroma tubuhnya, aroma musk dan mint yang benar-benar membuatku nyaman. Dan dekapannya begitu hangat. Jika aku tahu bahwa di peluknya seperti ini akan terasa begitu hangat aku akan mencari cara agar ia memelukku terus, eh? Astaga, apa yang sedang kau pikirkan Hanna? Benar-benar pemikiran yang sangat bodoh, rutukku dalam hati.

Sampai tiba-tiba aku merasakan tubuhku melayang. Dan mendarat dengan lembut di atas tempat tidur yang empuk itu. Tunggu dulu... Jangan-jangan... Ya Tuhan, bagaimana ini?

James memandangku dengan tatapan yang tidak seperti biasanya. Dia menatapku seperti err ingin memakanku, entahlah. Yang jelas di tatap seperti itu membuat tubuhku terasa seperti terkena aliran listrik. Tubuhku rasanya meremang, ada perasaan aneh yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dan masalahnya adalah saat ini aku hanya menggunakan bathrobe untuk menutupi tubuhku yang polos tanpa selehai kain pun yang kupakai untuk melapisi bathrobe itu. Ya Tuhan, jangan-jangan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar