"Aku tak menunggumu malam ini
Karena di matamu bulan bersinar lungguh
Membawaku pada kenangan pahit
beberapa waktu yg lalu
Kupu-kupu liar menyiksaku di sudut kamar yang terbuka
Namun pertemuan kita lebih
Harus dari datangnya malam
Maka kau t'lah menjadi bijaksana
Bagi kematian sekalipun
Karena perpisahan yg kelam dan
menyakitkan
Kau tawarkan tak lebih asin dari air laut
Karena kau pergi untuk meninggalkanku selamanya
Dan meninggalkan luka dan kepedihan yang mendalam di lubuk hatiku"
Namaku Melvinna Anindita Nugraha. Saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan yang paling bonafid di kota Bandung. Aku menjabat sebagai Manager HRD di perusahaan itu, meskipun saat ini usiaku baru menginjak dua puluh empat tahun.
Aku merupakan anak tunggal di keluargaku. Meskipun begitu kedua orang tuaku tidak pernah mendidikku untuk menjadi anak yang manja. Apalagi kami tidak berasal dari keluarga menengah ke atas.
Hari Minggu yang hangat kali ini aku menghabiskan waktu bermalas-malasan saja di rumah. Aku sedang tidak ingin pergi kemana-mana. Jadi aku memutuskan untuk membenahi kamar tidurku. Perhatianku tiba-tiba tertuju pada sebuah kotak kayu yang di hiasi oleh ukiran kayu yang terletak di dalam sebuah kotak besar yang di simpan di bawah tempat tidurku.
Dengan perlahan aku membuka kotak yang telah tertutupi oleh debu yang tebal itu. Di dalamnya aku menemukan berbagai barang dan beberapa benda mirip sebuah amplop. Lalu aku mengeluarkannya satu persatu dan meletakkannya di atas lantai. Setelah semua benda-benda itu berada di atas lantai, aku langsung tercenung memandangi benda-benda itu.
Berusaha mengingat-ingat satu persatu benda-benda itu. Namun belum ada yang berhasil aku ingin. "Astaga, sejak kapan benda-benda ini ada di dalam kamarku?" Gumamku sambil mengambil salah satu benda yang berbentuk liontin. Liontin? Sejak kapan aku memiliki liontin seperti ini? Seruku dalam hati sambil terus menatap lekat liontin yang berada dalam genggamanku.
Mataku langsung beralih menatap sebuah amplop yang aku keluarkan tadi bersama liontin. Dengan perlahan aku membuka amplop tersebut. Ada beberapa lembar foto yang terlihat usang di dalamnya. Aku memperhatikannya dengan seksama.
Secara spontan aku langsung menutup mulutku, foto serta liontin yang sedari tadi aku pegang jatuh begitu saja. Air mataku langsung jatuh tanpa terbendung lagi. Memori di masa lalu yang selama ini sudah berhasil aku lupakan langsung terputar begitu saja.
Benda-benda yang aku temukan hari ini adalah benda-benda yang menghubungkanku dengan seseorang di masa laluku. Seseorang yang sebenarnya masih betah bersemayam di dasar hatiku yang paling dalam. Namun selama bertahun-tahun aku berusaha keras untuk mengabaikan keberadaannya.
Karena mengingat dirinya hanya akan membuatku kembali terperosok dan terperangkap kembali di dalam masa lalu. Tanpa tahu bagaimana lagi caranya untuk melepaskan diri. Pikiranku melayang dan kembali teringat dengan kejadian yang menyakitkan itu.
"Vinna, kita putus." Kata-kata menyakitkan itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut kekasihku Ryan. Ia mengeluarkan kata-kata itu tepat di hari pernikahan kami.
Setelah mendengar kata-kata itu ponsel dalam genggamanku langsung terjatuh ke lantai. Tubuhku limbung, rasanya jantungku seperti di paksa untuk berhenti berdetak. Bulir-bulir air mata langsung membasahi kedua pipiku.
Bagaimana ini? Mengapa Ryan tega berbuat seperti ini? Jika ia belum siap untuk menikah mengapa ia tak mengatakannya sejak awal? Mengapa ia harus membatalkan pernikahan kami tepat di hari pernikahan kami di laksanakan? Ya Tuhan...
Sejak kejadian itu aku hanya bisa mengurung diriku di dalam kamar. Sekeras apapun usaha keluargaku untuk menghiburku tetap tak berpengaruh. Aku benar-benar terpukul. Ryan... Mengapa kau tega melakukan ini kepadaku? Membuat aku dan keluarga besarku menanggung malu.
Kau tahu luka yang kau torehkan saat ini takkan pernah bisa hilang. Dan entah kapan bisa sembuh. Ryan, mengapa kau tak memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya kepadaku. Kau menghilang begitu saja. Membuatku tenggelam dalam lautan kesedihan yang rasanya tak bertepi. Meskipun seperti itu aku tetap mencintaimu. Berharap suatu hari nanti kita akan bertemu dan kembali bersatu.
Tak bisa aku melupakanmu
Walau kau bukan milikku lagi
Tak biasa aku hidup tanpamu
Terbiasa kau perhatikan aku
Aku dan kamu, itu dia doaku
Aku dan kamu, itulah mimpi besarku
Bagaimana nasib cintaku
Hatiku masih hidup di ragamu
Masih saja ku menganggapmu
Aku pasanganmu seperti dahulu
Tak bisa aku melupakanmu
Walau kau bukan milikku lagi
Aku dan kamu, itu dia doaku
Aku dan kamu, itulah mimpi besarku
Bagaimana nasib cintaku
Hatiku masih hidup di ragamu
Masih saja ku menganggapmu
Aku pasanganmu seperti dahulu
Bagaimana nasib cintaku
Hatiku masih ooo
Bagaimana nasib cintaku
Hatiku masih hidup di ragamu
Masih saja ku menganggapmu
Aku pasanganmu seperti dahulu
(Rinni - Mimpi Besarku)
Mengingat semua itu lagi-lagi membuatku menangis. Semua kenangan manis dan pahit yang aku lewati selama bersama Ryan terputar ulang di dalam kepalaku. Membuat kepalaku berdenyut-denyut dan sakit. Hingga tiba-tiba sekelilingku berubah menjadi gelap.
***
Mataku terbuka perlahan-lahan, cahaya yang menerangi ruangan ini menyakitkan mataku. Setelah terbiasa aku langsung mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Ya, aku melihat Mama, Papa dan Alva adik laki-lakiku. Wajah mereka terlihat sangat khawatir sekali.
"Syukurlah, akhirnya kau sadar juga, sayang." Ucap Mama dengan penuh kelegaan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku dengan suara lemah.
"Alva tadi menemukanmu tidak sadarkan diri, Vinn." Jawab Papa.
"Ah, aku pasti kelelahan." Timpalku singkat. Tapi ada yang aneh dengan mereka semua. Mereka menunjukan ekspresi yang sulit aku baca, "Kalian kenapa?" Akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari mulutku.
"Ada yang ingin menemuimu, sayang. Dan mereka sudah menunggu di ruang tamu." Jelas Mama dengan suara yang di buat setenang mungkin.
"Siapa?" Keningku berkerut saat kembali melemparkan pertanyaan lagi.
"Kakak lihat saja sendiri nanti. Ayo, biar aku bantu kakak untuk ke bawah." Ucap Alva sambil membantuku untuk bangun.
Dengan di papah oleh Alva adikku, aku berjalan menuju ke ruang tamu yang berada di lantai satu. Sedangkan Mama dan Papa berjalan di depan kami. Sebenarnya ada apa? Mengapa semua orang terlihat sangat aneh sekali. Sepertinya mereka terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Semakin mendekati ruang tamu, jantungku semakin cepat berdetak. Entah mengapa perasaanku mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang akan kembali membuka luka di hatiku dan kembali membuatku terluka semakin dalam.
Dan ternyata benar saja. Di ruang tamu ternyata ada kedua orang tua Ryan. Ya Tuhan, mau apalagi mereka sekarang? Setelah menghilang begitu lama tanpa memberikan penjelasan apapun kepadaku dan keluargaku atas perbuatan anak mereka yang membatalkan pernikahan seenaknya. Dan sekarang tiba-tiba mereka muncul kembali di hadapanku. Meskipun aku berharap bisa bertemu dan melihat wajah Ryan kembali.
Sayangnya aku tak melihat sosoknya di ruangan itu. Tidak Vinna, berhentilah mengharapkan pria tidak bertanggung jawab seperti dia. Pria seperti itu tidak pantas untuk di tangisi.
Tante Rhena langsung memelukku ketika aku sudah berada di hadapannya. Aku hanya diam ketika dia melakukan hal itu. Setelah beberapa saat ia melepaskan pelukannya.
"Vinna, apa kabar? Sudah lama sekali Tante tidak melihatmu." Ucapnya sambil tersenyum lembut kepadaku. Aku tak merespon. Lalu Mama menyuruh kami semua untuk duduk.
"Maafkan Tante dan Om karena baru bisa menemuimu setelah sekian lama, Vinna." Tante Rhena membuka suara, "Sebenarnya kami ingin sekali menemuimu dengan segera. Tapi Ryan melarang kami..." lanjutnya, namun aku tetap tak merespon perkataannya.
"Dan apa yang membuat Om dan Tante berada disini sekarang?" Tanyaku dengan datar.
"Karena Ryan sudah tidak ada." Jawab Tante Rhena. Aku mengernyitkan kening mendengarkan jawaban yang menurutku ambigu itu. "Kami datang kemari untuk menjelaskan mengapa Ryan tiba-tiba saja membatalkan pernikahan kalian tepat di hari pernikahan."
"Semua sudah terlambat, Tante. Percuma saja Tante menjelaskannya kepadaku saat ini." Cecarku dengan emosi yang mulai meluap. Mama meremas kuat tanganku sambil menggelengkan kepalanya.
"Tante tahu bahwa semuanya sudah terlambat. Tapi kami tidak akan pernah tenang sebelum bertemu denganmu..." Tante Rhena kembali terdiam, ia menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya "Di hari pernikahan kalian, ketika kami akan pergi menuju rumahmu tiba-tiba saja Ryan jatuh pingsan. Karena panik, Om dan Tante langsung membawa Ryan ke rumah sakit. Dokter langsung menangani Ryan sampai akhirnya dokter memberitahukan bahwa ada tumor yang bersarang di otaknya dengan ukuran yang cukup besar. Jika di lakukan operasipun dokter tidak menjamin bahwa Ryan akan bisa bertahan hidup lebih lama lagi..." Tante Rhena mulai terisak. Ryan, tidak. Mengapa kau melakukan ini kepadaku, "... dan ternyata ketika dokter menjelaskan Ryan sudah sadar dan mendengarkan semua penjelasan dokter. Ryan langsung meminta ponselnya lalu menghubungimu dan membatalkan pernikahannya denganmu, Vinn. Lalu ia meminta kami untuk merahasiakan semuanya darimu." Tidak. Tidak. Aku benar-benar tak sanggup untuk mendengarkannya lagi lebih lanjut. Kepalaku berdentam-dentam, rasanya benar-benar sakit. Hingga akhirnya aku kembali menemui kegelapan di sekelilingku.
Di dalam kegelapan itu aku melihat seberkas cahaya yang tidak terlalu menyilaukan. Dengan perasaan ragu aku mendekati cahaya itu. Aku tersentak kaget ketika melihat sosok Ryan yang berdiri di tengah-tengah cahaya itu. Wajah tampannya terlihat pucat. Meskipun sebuah senyuman tersimpul di wajahnya namun aku bisa melihat kesedihan yang begitu dalam terlukis jelas.
"Ryan..." panggilku dengan lirih. Namun dia hanya memberikan tatapan yang seolah-olah berkata "maafkan aku". Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. "Aku merindukanmu, Ryan. Jangan pergi lagi, kumohon." Isakku sambil terus berjalan mendekatinya. Semakin dekat semakin kuat juga Ryan menggelengkan kepalanya seperti memintaku untuk diam dan tak mendekat.
Aku tak menghiraukannya, kali ini aku tak mau kehilangan Ryan lagi. Tuhan, aku sangat merindukannya, ingin kupeluk tubuhnya. Namun aku harus kembali menelan kekecewaan, karena ketika aku sudah mendekat dan hendak menjangkau tubuhnya dengan tanganku. Tiba-tiba sosok Ryan hilang dan lenyap begitu saja. Aku berteriak memanggil namanya namun sosoknya tetap tidak muncul. Aku berteriak hingga akhirnya aku merasa lelah dan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk kedua lututku.
Dan ketika aku membuka mataku, aku kembali berada di dalam kamarku. Mama bilang kedua orang tua Ryan sudah pamit beberapa menit yang lalu. Lalu Mama mengatakan kepadaku bahwa Ryan sudah meninggal sebulan yang lalu. Akhirnya Ryan menyerah pada penyakitnya. Ia melakukan hal ini karena tak sanggup untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya kepadaku. Terlebih lagi Ryan tak ingin membuatku sedih.
Tangisku kembali pecah. Selama ini aku selalu menuduh Ryan macam-macam. Ya Tuhan, tolong katakan bahwa ini hanya mimpi, ini tidak nyata. Aku menangis sambil menjambak rambutku dengan frustasi. Maafkan aku Ryan, maafkan aku.
"Sudah sayang sudah. Berhentilah menangis. Relakan Ryan, ikhlaskan ia pergi." Ucap Mama sambil memelukku.
"Mengapa Ryan tidak jujur, Ma? Mengapa harus membatalkan pernikahan kami dengan cara yang seperti itu." Cecarku.
Yang aku lakukan setelah mendapatkan kabar itu adalah pergi. Pergi ke tempat-tempat yang dulu sering sekali aku datangi bersama Ryan. Tempat yang penuh dengan kenangan akan dirinya. Tuhan... ternyata aku masih begitu mencintai Ryan meskipun selama ini aku mengelak untuk mengakui perasaanku yang sebenarnya. Rasa sakit yang ia torehkan tak sebanding dengan rasa sakit yang ia timbulkan karena kepergiannya yang takkan pernah kembali.
Seminggu setelah kejadian itu barulah aku memberanikan diri untuk mendatangi makam Ryan. Aku terlalu takut untuk mendatangi makamnya. Aku takkan sanggup, tapi aku akan terus-terusan di hantui perasaan bersalah karena sikapku yang selama ini selalu menuduhnya macam-macam.
Dan sekarang di sinilah aku. Berdiri tepat di depan pusara kekasihku. Aku meletakkan sebuket bunga tepat di depan pusaranya. Dengan perlahan aku mulai membelai pusara yang dingin itu.
"Maaf aku baru bisa menemui hari ini, Ryan. Kau tahu semua ini benar-benar membuatku merasa begitu tertekan..." aku terisak di tengah-tengah ucapanku, "... mengapa harus seperti ini, Ryan? Mengapa? Mengapa kau tidak jujur kepadaku? Kau tahu aku mencintainya apa adanya. Aku terima semua kekuranganmu, tapi... Percuma terus mennyesalinya, karena semuanya sudah terjadi dan takkan mungkin bisa di ulang lagi, bukan. Aku tak akan pernah bisa melupakanmu, Ryan. Aku berharap kita berjodoh akhirat nanti. Tidur yang tenang, aku janji akan baik-baik saja disini. I love you." Ucapku sambil mencium pusara yang dingin itu. Setelah beberapa saat aku beranjak meninggalkan tempat itu.
¤♡ THE END ♡¤
Tidak ada komentar:
Posting Komentar